Halaman

Senin, 28 Maret 2016

MENJAWAB TANTANGAN PASAR BEBAS TENAGA KERJA TERAMPIL (FREE FLOW OF SKILLED LABOR)

Negara-negara di ASEAN termasuk Indonesia di dalamnya kini tengah berpacu dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah dimulai akhir tahun 2015. Tujuan pelaksanaan MEA didorong oleh perkembangan eksternal dan internal kawasan.  Dari sisi eksternal, Asia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi baru, disokong oleh India, tiongkok, dan negara ASEAN. Sedangkan secara internal, kekuatan ekonomi ASEAN sampai tahun 2013 telah menghasilkan GDP sebesar US$ 3,36 triliun dengan laju pertumbuhan sebesar 5% dan memiliki jumlah penduduk 617, 68 juta orang. Pada dasarnya kekuatan MEA sebenarnya berada di tangan Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN. Hal itu didukung oleh data proporsi Indonesia vs ASEAN yaitu luas wilayah mencapai 43%, proporsi jumlah penduduk mencapai 40% serta proporsi GDP Indonesia yang mencapai 38%.
Salah satu isu tantangan terberat Indonesia dalam MEA adalah terjadinya pasar bebas tenaga kerja terampil (free flow of skilled labor).
Sebuah peluang yang besar bagi para tenaga kerja sampai wirausahawan dengan berbagai keahlian dan kebutuhan untuk mencari pekerjaan tanpa hambatan sampai akses ke luar negeri. Namun pasar bebas tenaga kerja terampil juga mengisyaratkan risiko akan eksistensi ketenagakerjaan Indonesia. Pasar bebas tenaga kerja akan membuka lebar peluang tenaga kerja terampil asing mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang selama ini tertutup atau minim tenaga kerja asing. Kenyataan akan peluang dan risiko tersebut menggambarkan bahwa MEA sebenarnya bagaikan pisau bermata ganda. Untuk itu, daya saing SDM merupakan hal mutlak untuk merubah tantangan menjadi peluang.
Indonesia dengan keadaannya kini dinilai belum siap untuk menghadapi MEA yang sudah di depan mata. Ketenaga kerjaan di Indonesia masih menghadapi persoalan yang membuat lemahnya daya saing. Persoalan tersebut diantaranya :
1.      Masih rendahnya kompetensi tenaga kerja dengan keahlian yang kritis di
sektor modern, dan sebaliknya tenaga kerja di sektor tradisional Indonesia berlebihan.
2.      Terbatasnya modal kerja.
3.      Tingkat pengangguran terbuka Indonesia yang mencapai 5,81%. Walaupun angka ini menurun dari tahun 2014 (5,94%) dan 2013 (5,92%), namun tingkat pengangguran di Indonesia masih tertinggi di kawasan ASEAN.
4.       Belum meratanya pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) pada masyarakat. Selain itu, tingkat pendayagunaan teknologi modern di Indonesia masih dalam kategori relatif rendah, karena terbatasnya modal dan tingkat kualifikasi masyarakat akan IPTEK.
5.      Produktifitas tenaga kerja yang rendah. Produktifitas ini berbarengan dengan faktor rendahnya kompetensi tenaga kerja terampil dengan keahlian kritis di sektor modern. 
6.      Minimnya penguasaan bahasa asing.
7.      Inefisiensi birokrasi. Efisiensi pasar tenaga kerja menempati peringkat 5 dari 10 faktor penilaian survey. Inefisiensi pasar tenaga kerja terutama terkait dengan kakunya peraturan tenaga kerja serta biaya tinggi yang ditanggung oleh pemberi kerja. Selain itu hal ini dibarengi dengan masih relatif rendahnya produktifitas tenaga kerja Indonesia yang membuat daya saing Indonesia semakin lemah.
Masalah diatas menunjukan potret Indonesia sesungguhnya saat ini yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Peningkatan kualifikasi dan daya saing pekerja, peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan serta sinergi dan birokrasi antar pemangku kepentingan adalah hal yang mutlak dibenahi.
Daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) atau ketenaga kerjaan merupakan hal mutlak untuk merubah tantangan menjadi peluang. Untuk itu tenaga kerja merupakan aset yang harus dikelola pengembangan mutu dan kualifikasinya. Upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah membuat tenaga kerja berada pada garis the right man in the right place at the right time.
Era baru masyarakat ASEAN ini tentunya memacu ketatnya persaingan pada masa akan datang. Untuk itu perencanaan sumber daya manusia dapat dilakukan untuk menganalisis kebutuhan sumber daya manusia dan menganalisis persediaan sumber daya manusia sehingga dapat dikelola efektif dan sesuai dengan sistem dan garis the right man in the right place at the right time. Mengelola perencanaan sumber daya memperhatikan management responsibility, process control, and training. Management responsibility menunjukan kepada tenaga kerja mengenai keseragaman pandangan mengenai penempatan tenaga kerja sesuai kemampuan ahlli serta kualifikasi standar mutu tenaga kerja yang harus dipenuhi agar mampu bersaing dalam MEA . Process control dilaksanakan agar tenaga kerja mampu mempertahankan tingkat kualifikasi kemampuan yang dimiliki agar secara konsisten dapat bersaing dalam dunia ketenaga kerjaan. Training dilakukan dalam rangka upaya peningkatan kemampuan tenaga kerja. Tenaga kerja sebagai aset nilainya harus ditingkatkan, pelatihan pengembangan yang sistematik dan koheren dapat dilakukan baik off job training atau on job training. Pelatihan pengembangan ini juga mempersiapkan tenaga kerja untuk siap memenuhi kebutuhan di masa akan datang agar mampu merancang strategi kunci di masa akan datang.
Dalam pelatihan dan pengembangan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk basis inovasi ketenaga kerjaan kedepan adalah otomasi atau bahkan digitalisasi yang akan makin mengefisienkan mata rantai serta memacu produktifitas. Dewasa ini pengembangan teknologi dan informasi telah memacu produktifitas dan efisiensi produksi dari suatu negara yang tercermin oleh negara-negara maju yang kini banyak menguasai pasar, seperti China, Amerika Serikat, Singapura. Pendayagunaan IPTEK layaknya teknologi informasi  merupakan akselerasi yang bisa dilakukan untuk memangkas wasting time dan melipat gandakan produktifitas. Produktivitas yang tinggi mencerminkan daya saing tinggi dan daya saing tinggi berpotensi menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Daya saing tinggi menuntut pemenuhan “prasyarat dasar ” yang diantaranya meliputi infrastruktur, kualitas kelembagaan birokrasi, stabilitas ekonomi makro, serta pendidikan.
Sinergi antar pemangku kepentingan juga merupakan faktor penting dalam mendongkrak daya saing tenaga profesional. Pemerintah daerah, dunia pendidikan dan perguruan tinggi, praktisi, pelaku usaha dan kalangan media mempunyai peran yang tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia. Mengangkat kualitas angkatan kerja profesional seperti peningkatan kapasitas perguruan tinggi serta pendidikan ketrampilan dan kejuruan harus menjadi prioritas. Komposisi pendidikan kejuruan dengan pendidikan umum harus disesuaikan. Balai pelatihan kerja harus didukung dan semakin dikedepankan perannya. Tentu saja pemerintah daerah juga memiliki peran sentral.
Menata ulang kelembagaan dan SDM birokrasi seyogyanya  menjadi prioritas pada semua tataran birokrasi, mengingat semakin ketatnya persaingan ekonomi dan tenaga kerja kawasan pada masa mendatang. Hal ini juga didasari atas kenyataan masih belum kondusifnya  dukungan birokrasi dalam mengoptimalkan peningkatan daya saing. Perlu terus diupayakan   membangun meritokrasi sistem staffing birokrasi, melalui implementasi open recruitment, dengan open recruitment, diharapkan akan didapatkan  calon-calon yang tenaga kerja kapabel untuk mengahadapi MEA. Ketatnya persaingan akan  menjadikan semakin sentralnya peran birokrasi sebagai “center of activity”  yang menjamin akselerasi berbagai implementasi  kebijakan dan program yang dirancang untuk memenangkan persaingan jelang MEA 2015.
Mengembangkan spirit wirausahawan pada birokrasi tenaga kerja dapat menjadi alternatif pilihan dalam memenangkan persaingan MEA 2015, dengan mewirausahakan tenaga kerja akan menghasilkan individu-individu yang beroreintasi kepada tindakan yang bermotivasi tinggi dalam menjalankan usahanya, efesien, kreatif dan inovatif dalam memasarkan potensi unggulan daerah,  agar memiliki  nilai tambah ekonomi tinggi.
Sikap-sikap mental yang positif dari jiwa-jiwa sociouentrepreneurship  seyogyanya dapat menjadi sebuah daya yang besar dalam menjawab dan mengoptimalkan  peluang pasar bebas tenaga kerja dalam mengembangkan investasi, mengatasi masalah ketenagakerjaan, pembangunan infrastruktur dan mengembangkan ekonomi kreatif.

Sumber Referensi :
Amri. Iwan Suyudhie.2015.MEA Peluang Bersyarat. Dalam Buletin Masyarakat
ASEAN
Wangke, Humphrey.2014.Peluang Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi
ASEAN 2015. Dalam Info Singkat Hubungan Internasional Vol. VI
No.10/II/P3DI/Mei/2014
Wuryandani, Dewi.2014.Peluang dan Tantangan SDM Indonesia Menyongsong
Era Masyarakat ASEAN. Dalam Info singkat ekonomi dan kebijakan

publik Vol. VI, No.17/I/P3DI/September/2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar