Negara-negara
di ASEAN termasuk Indonesia di dalamnya kini tengah berpacu dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah dimulai akhir tahun
2015. Tujuan pelaksanaan MEA didorong oleh perkembangan eksternal dan internal
kawasan. Dari sisi eksternal, Asia
diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi baru, disokong oleh India, tiongkok,
dan negara ASEAN. Sedangkan secara internal, kekuatan ekonomi ASEAN sampai
tahun 2013 telah menghasilkan GDP sebesar US$ 3,36 triliun dengan laju
pertumbuhan sebesar 5% dan memiliki jumlah penduduk 617, 68 juta orang. Pada
dasarnya kekuatan MEA sebenarnya berada di tangan Indonesia sebagai negara
terbesar di ASEAN. Hal itu didukung oleh data proporsi Indonesia vs ASEAN yaitu
luas wilayah mencapai 43%, proporsi jumlah penduduk mencapai 40% serta proporsi
GDP Indonesia yang mencapai 38%.
Salah
satu isu tantangan terberat Indonesia dalam MEA adalah terjadinya pasar bebas
tenaga kerja terampil (free flow of
skilled labor).
Sebuah peluang yang besar bagi para tenaga kerja sampai
wirausahawan dengan berbagai keahlian dan kebutuhan untuk mencari pekerjaan
tanpa hambatan sampai akses ke luar negeri. Namun pasar bebas tenaga kerja
terampil juga mengisyaratkan risiko akan eksistensi ketenagakerjaan Indonesia. Pasar
bebas tenaga kerja akan membuka lebar peluang tenaga kerja terampil asing
mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang selama ini tertutup
atau minim tenaga kerja asing. Kenyataan akan peluang dan risiko tersebut
menggambarkan bahwa MEA sebenarnya bagaikan pisau bermata ganda. Untuk itu,
daya saing SDM merupakan hal mutlak untuk merubah tantangan menjadi peluang.
Indonesia
dengan keadaannya kini dinilai belum siap untuk menghadapi MEA yang sudah di
depan mata. Ketenaga kerjaan di Indonesia masih menghadapi persoalan yang
membuat lemahnya daya saing. Persoalan tersebut diantaranya :
1. Masih
rendahnya kompetensi tenaga kerja dengan keahlian yang kritis di
sektor
modern, dan sebaliknya tenaga kerja di sektor tradisional Indonesia berlebihan.
2. Terbatasnya
modal kerja.
3. Tingkat
pengangguran terbuka Indonesia yang mencapai 5,81%. Walaupun angka ini menurun
dari tahun 2014 (5,94%) dan 2013 (5,92%), namun tingkat pengangguran di
Indonesia masih tertinggi di kawasan ASEAN.
4. Belum meratanya pendidikan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) pada masyarakat. Selain itu, tingkat pendayagunaan
teknologi modern di Indonesia masih dalam kategori relatif rendah, karena
terbatasnya modal dan tingkat kualifikasi masyarakat akan IPTEK.
5. Produktifitas
tenaga kerja yang rendah. Produktifitas ini berbarengan dengan faktor rendahnya
kompetensi tenaga kerja terampil dengan keahlian kritis di sektor modern.
6. Minimnya
penguasaan bahasa asing.
7. Inefisiensi
birokrasi. Efisiensi pasar tenaga kerja menempati peringkat 5 dari 10 faktor
penilaian survey. Inefisiensi pasar tenaga kerja terutama terkait dengan
kakunya peraturan tenaga kerja serta biaya tinggi yang ditanggung oleh pemberi
kerja. Selain itu hal ini dibarengi dengan masih relatif rendahnya
produktifitas tenaga kerja Indonesia yang membuat daya saing Indonesia semakin
lemah.
Masalah
diatas menunjukan potret Indonesia sesungguhnya saat ini yang tidak bisa
dipandang sebelah mata. Peningkatan kualifikasi dan daya saing pekerja, peningkatan
mutu dan pemerataan pendidikan serta sinergi dan birokrasi antar pemangku
kepentingan adalah hal yang mutlak dibenahi.
Daya
saing Sumber Daya Manusia (SDM) atau ketenaga kerjaan merupakan hal mutlak
untuk merubah tantangan menjadi peluang. Untuk itu tenaga kerja merupakan aset
yang harus dikelola pengembangan mutu dan kualifikasinya. Upaya yang dapat
dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah membuat tenaga kerja berada pada
garis the right man in the right place at
the right time.
Era
baru masyarakat ASEAN ini tentunya memacu ketatnya persaingan pada masa akan
datang. Untuk itu perencanaan sumber daya manusia dapat dilakukan untuk
menganalisis kebutuhan sumber daya manusia dan menganalisis persediaan sumber
daya manusia sehingga dapat dikelola efektif dan sesuai dengan sistem dan garis
the right man in the right place at the
right time. Mengelola perencanaan sumber daya memperhatikan management responsibility, process control,
and training. Management
responsibility menunjukan kepada tenaga kerja mengenai keseragaman
pandangan mengenai penempatan tenaga kerja sesuai kemampuan ahlli serta
kualifikasi standar mutu tenaga kerja yang harus dipenuhi agar mampu bersaing
dalam MEA . Process control
dilaksanakan agar tenaga kerja mampu mempertahankan tingkat kualifikasi
kemampuan yang dimiliki agar secara konsisten dapat bersaing dalam dunia
ketenaga kerjaan. Training dilakukan
dalam rangka upaya peningkatan kemampuan tenaga kerja. Tenaga kerja sebagai
aset nilainya harus ditingkatkan, pelatihan pengembangan yang sistematik dan
koheren dapat dilakukan baik off job
training atau on job training. Pelatihan
pengembangan ini juga mempersiapkan tenaga kerja untuk siap memenuhi kebutuhan
di masa akan datang agar mampu merancang strategi kunci di masa akan datang.
Dalam
pelatihan dan pengembangan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
untuk basis inovasi ketenaga kerjaan kedepan adalah otomasi atau bahkan
digitalisasi yang akan makin mengefisienkan mata rantai serta memacu
produktifitas. Dewasa ini pengembangan teknologi dan informasi telah memacu
produktifitas dan efisiensi produksi dari suatu negara yang tercermin oleh
negara-negara maju yang kini banyak menguasai pasar, seperti China, Amerika
Serikat, Singapura. Pendayagunaan IPTEK layaknya teknologi informasi merupakan akselerasi yang bisa dilakukan untuk
memangkas wasting time dan melipat gandakan produktifitas. Produktivitas yang
tinggi mencerminkan daya saing tinggi dan daya saing tinggi berpotensi
menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Daya saing tinggi menuntut
pemenuhan “prasyarat dasar ” yang diantaranya meliputi infrastruktur, kualitas
kelembagaan birokrasi, stabilitas ekonomi makro, serta pendidikan.
Sinergi
antar pemangku kepentingan juga merupakan faktor penting dalam mendongkrak daya
saing tenaga profesional. Pemerintah daerah, dunia pendidikan dan perguruan
tinggi, praktisi, pelaku usaha dan kalangan media mempunyai peran yang tidak
kalah pentingnya dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia.
Mengangkat kualitas angkatan kerja profesional seperti peningkatan kapasitas
perguruan tinggi serta pendidikan ketrampilan dan kejuruan harus menjadi
prioritas. Komposisi pendidikan kejuruan dengan pendidikan umum harus
disesuaikan. Balai pelatihan kerja harus didukung dan semakin dikedepankan
perannya. Tentu saja pemerintah daerah juga memiliki peran sentral.
Menata ulang
kelembagaan dan SDM birokrasi seyogyanya menjadi prioritas pada semua
tataran birokrasi, mengingat semakin ketatnya persaingan ekonomi dan tenaga
kerja kawasan pada masa mendatang. Hal ini juga didasari atas kenyataan masih
belum kondusifnya dukungan birokrasi dalam mengoptimalkan peningkatan
daya saing. Perlu terus diupayakan membangun meritokrasi sistem
staffing birokrasi, melalui implementasi open recruitment, dengan open
recruitment, diharapkan akan didapatkan calon-calon yang tenaga kerja
kapabel untuk mengahadapi MEA. Ketatnya persaingan akan menjadikan
semakin sentralnya peran birokrasi sebagai “center
of activity” yang menjamin akselerasi berbagai implementasi
kebijakan dan program yang dirancang untuk memenangkan persaingan jelang MEA
2015.
Mengembangkan
spirit wirausahawan pada birokrasi tenaga kerja dapat menjadi alternatif
pilihan dalam memenangkan persaingan MEA 2015, dengan mewirausahakan tenaga
kerja akan menghasilkan individu-individu yang beroreintasi kepada tindakan
yang bermotivasi tinggi dalam menjalankan usahanya, efesien, kreatif dan
inovatif dalam memasarkan potensi unggulan daerah, agar memiliki
nilai tambah ekonomi tinggi.
Sikap-sikap
mental yang positif dari jiwa-jiwa sociouentrepreneurship
seyogyanya dapat menjadi sebuah daya yang besar dalam menjawab dan mengoptimalkan peluang
pasar bebas tenaga kerja dalam mengembangkan investasi, mengatasi masalah
ketenagakerjaan, pembangunan infrastruktur dan mengembangkan ekonomi kreatif.
Sumber Referensi :
Amri. Iwan Suyudhie.2015.MEA Peluang
Bersyarat. Dalam Buletin Masyarakat
ASEAN
Wangke, Humphrey.2014.Peluang Indonesia
dalam Masyarakat Ekonomi
ASEAN 2015. Dalam Info
Singkat Hubungan Internasional Vol. VI
No.10/II/P3DI/Mei/2014
Wuryandani, Dewi.2014.Peluang dan
Tantangan SDM Indonesia Menyongsong
Era Masyarakat ASEAN.
Dalam Info singkat ekonomi dan kebijakan
publik Vol. VI,
No.17/I/P3DI/September/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar