Halaman

Senin, 27 Juni 2016

Tinjauan Pengetahuan Kebersihan dan Metode Sanitasi dalam Penerapannya di Warung Angkringan Kecamatan Gedongtengen Daerah Istimewa Yogyakarta


1)        Khoiruddin Z. A. 2) Tara Diso, 3) M. Ali Shodiqi, 4) Achsan Taufiq, 5) Rizal D.
Prodi Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK
      Sanitasi pangan erat kaitannya dengan kebersihan dalam tahap persiapan, pengolahan, penyimpanan serta penyajian makanan. Warung Angkringan merupakan salah satu jenis usaha penjaja makanan yang menyimpan potensi ekonomi besar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai salah satu jenis usaha pelayanan umum yang mengolah dan menyediakan makanan, maka angkringan memiliki potensi yang cukup besar untuk menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit bawaan makanan yang dihasilkannya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi demografi, mengetahui tingkat pengetahuan penjual dan konsumen angkringan Gedongtengen mengenai kebersihan dan sanitasi dalam hubungannya dengan keamanan pangan, mengetahui dampak dan solusi berdasarkan  tinjauan sanitasi pada angkringan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif pada jenis deskriptif-analitif. Tahapan penelitian adalah observasi, wawancara, pengumpulan data dan penilaian. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan info demografi menunjukkan data 68,75% responden adalah laki-laki, 31,25% adalah perempuan. Status pendidikan tingkat SMA/derajat 87,5% dan Sarjana 12,5%, dengan responden pengusaha angkringan adalah 43,75% dan konsumen angkringan adalah 56,25%. Kemudian tingkat pengetahuan sanitasi menunjukan hasil bahwa anggapan konsumen terhadap angkringan yang berada di wilayah Gedongtengen Yogyakarta sebesar 83,81 %, sedangkan tingkat sanitasi angkringan berdasarkan penilaian yaitu sebesar 42,85%. Hal itu meunjukan tingkat pengetahuan konsumen yang rendah mengenai sanitasi yaitu hanya sebesar 34,28%.
Variable
%
Jenis Kelamin
·         Laki-laki
·         Perempuan
68,75
31,25
Status Pendidikan
·         SMA/Sederajat
·         Sarjana
89,29
10,71
Status Responden
·         Pengusaha Angkringan
·         Konsumen Angkringan
25
75
Parameter
Angkringan
Presentase(%)
1
2
3
4
5
6
7
Pengetahuan sanitasi
1
1
3
5
1
3
1
42,86
Pentingnya sanitasi
3
4
3
5
4
5
5
82,86
Intensitas Pembersihan
5
5
5
4
3
3
5
85,71
Cara Pembersihan Peralatan
3
3
3
3
3
3
3
60,00
Penggantian air
4
2
3
4
3
2
3
60,00
Pemakaian sabun
5
5
5
5
5
5
5
100,00
Pencucian digosok/dicelup
5
5
5
5
5
5
5
100,00
Penggunaan alat pencuci
5
3
5
5
4
5
5
91,43
Pembersihan tempat makan
0
0
0
0
0
0
0
0,00
Penggunaan desinfektan
0
0
0
0
0
0
0
0,00
Penggunaan lap
3
5
3
5
4
4
4
80,00
Pencucian lap
4
3
5
4
5
5
2
80,00
Ketersediaan tempat sampah
5
5
5
5
5
5
5
100,00
Pemilahan sampah
0
0
0
0
0
0
0
0,00
Jumlah
43
41
45
50
42
45
43



Parameter
Angkringan
Jumlah
Presentase (%)
1
2
3
4
5
6
7
Total
Tingkat Kebersihan
11
14
14
15
13
11
10
88
83,81
Pengetahuan Sanitasi
4
5
4
6
7
5
5
36
34,29


Kata Kunci : Angkringan, Pangan, Sanitasi



1.      Pendahuluan
            Masalah keamanan pangan banyak disebabkan oleh kondisi kebersihan dan sanitasi yang rendah sehingga menimbulkan kontaminasi bahan pangan baik pada makanan maupun minuman. Saat ini kesehatan adalah salah satu perhatian utama dalam isu keamanan pangan. Tidak diragukan lagi, jumlah orang yang terkena penyakit akibat pangan telah meningkat secara signifikan.
Afifi dan Abushelaibi (2012) menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan personal hygine practice dalam pelaksanaannya di masyarakat, bahkan pada tingkat pendidikan yang tinggi sekalipun.
Kasus-kasus yang dilaporkan di negara maju diperkirakan hanya 5 sampai 10% sedangkan di banyak negara berkembang data kuantitatif yang dapat diandalkan pada umunya sangat terbatas. Kejadian penyakit yang ditularkan melalui makanan di Indonesia cukup besar ini terlihat dari masih tingginya penyakit infeksi seperti typus, kolera, disentri, dan sebagainya. Dari 90% kasus keracunan pangan disebabkan oleh mikroba (Yunus, 2015)
      Sanitasi pangan erat kaitannya dengan kebersihan dalam tahap persiapan, pengolahan, penyimpanan serta penyajian makanan. Penyediaan air bersih dan aman, pemilihan bahan-bahan mentah yang bermutu tinggi dan penanganan yang higiene selama tahap persiapan dan tahap penyajian. Selain itu seluruh peralatan yang akan digunakan dan bersentuhan dengan bahan pangan harus dijaga agar selalu dalam kondisi bersih dengan lingkungan kerja yang bersih.
Warung Angkringan merupakan salah satu jenis usaha penjaja makanan yang menyimpan potensi ekonomi besar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Konsep kesederhanaan serta keunikan tempat telah menjadi daya tarik Warung Angkringan menjadi salah satu jenis usaha icon Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu daerah yang mempunyai potensi usaha angkringan di Yogyakarta adalah di wilayah Kecamatan Gedongtengen. Selain menawarkan harga makanan yang murah, angkringan di wilayah ini banyak dipilih karena lokasinya strategis dan mudah dijangkau.  Jumlah angkringan selalu meningkat seiring dengan permintaan masyarakat akan kebutuhan terhadap makanan yang disediakan di luar rumah,
 Sebagai salah satu jenis usaha pelayanan umum yang mengolah dan menyediakan makanan, maka angkringan memiliki potensi yang cukup besar untuk menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit bawaan makanan yang dihasilkannya. Dengan demikian kualitas makanan yang dihasilkan, disajikan dan dijual oleh penjual makanan harus memenuhi syarat kesehatan seperti faktor lokasi dan bangunan, fasilitas sanitasi, peralatan, pengolahan makanan yang baik dan penjamah makanannya sendiri.
Yogyakarta merupakan salah satu kota besar di Indonesia dengan potensi ekonomi, wisata, budaya dan pendidikan yang dimiliki guna mendukung terciptanya nilai kebersihan dan sanitasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi demografi , mengetahui tingkat pengetahuan penjual dan konsumen angkringan Gedongtengen mengenai kebersihan dan sanitasi dalam hubungannya dengan keamanan pangan, mengetahui dampak dan solusi berdasarkan  tinjauan sanitasi pada angkringan.

2.      Tinjauan Pustaka
2.1   Sanitasi
Sanitasi makanan (Sihite 2009:91) merupakan suatu usaha pencegahan untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu, merusak kesehatan, mulai dari minuman itu sebelum diproduksi
Makanan yang terjamin kesehatan dan keselamatannya akan terwujud bila ditunjang dengan keadaan higiene dan sanitasi yang baik dan dipelihara oleh pengelola dan masyarakat. Kualitas higiene dan sanitasi yang dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor penjamah makanan dan faktor lingkungan di mana makanan tersebut diolah, termasuk fasilitas pengolahan makanan yang tersedia (Kusumawati, 2013).

2.2  Angkringan
Angkringan merupakan tempat usaha penjual makanan dan miuman  (warung) kecil dan sederhana. Warung ini mempunyai keunikan dengan gerobak bertendanya yang menawarkan berbagai hidangan yang cukup murah (www.infojogja.com). Konsep kesederhanaan serta keunikan tempat ini telah menjadi daya tarik Warung Angkringan menjadi salah satu jenis usaha icon Daerah Istimewa Yogyakarta. Warung ini mempunyai potensi besar karena tempatnya yang strategis dan sudah menjadi alah satu pilihan masyarakat dengan harga makanannya yang murah.
Pengusaha angkrigan yang berperan sebagai pedagang mempunyai peran dan fungsinya sendiri dalam membentuk kultur secara sosial. Di satu sisi keberdaan mereka merupakan suatu kebutuhan bagi sebagian besar dan merupakan salah satu roda yang menggerakan sektor perdagangan di suatu kota. Namun disisi lainkehadirannya mendatangkan permasalahan lain yang berdampak pada keseimbangan lingkungan kota. Salah satu masalah yang signifikan itu adalah masalah kebersihan. Pedagang (angkringan) cenderung memiliki metode masing-masing dalam hal metode kebersihan yang digunakan. Tidak ada standar khusus yang ditetapkan untuk menyamakan tingkat pemahaman mengenai pengetahua kebersihan dan metode sanitasi (Nataprawira, 2014).

3.      Metodologi Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan pada waktu pertengahan bulan November dan awal Desember. Pengambilan data melibatkan responden 10 usaha penjaja angkringan dan 30 konsumen di Kecamatan Gedongtengen Yogyakarta.
3.1  Pendekatan dan Jenis Penelitian
Jenis pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif pada jenis deskriptif-analitif. Keutamaan penelitian kualitatif menurut Chad Wick (dalam Fachris, 2002:85) adalah suatu penelitian yang menekankan upaya untuk mendekati data dan memiliki kekhasan dalam pemahaman data secara mendalam dengan penekanan pada intepretasi. Langkah awal yang dilakukan adalah berupa usaha untuk mendeskripsikan gejala secara lengkap dalam aspek yang diselidiki. Data yang sudah diperoleh, diolah, dan disajikan dalam bentuk uraian naratif bukan dalam bentuk statistik.
Sedangkan jenis penelitian deskriptif-analitis adalah yang hanya melukiskan, memaparkan, menuliskan, dan melaporkan suatu keadaan suatu objek suatu peristiwa fakta adanya dan berupa penyingkapan fakta (Tim sosiologi, 2000:95).


3.2. Tahapan Penelitian
1.      Observasi
Untuk mengetauhi keadaan objek yang diteliti secara langsung. Observasi ini dilakukan dengan cara mendata sejumlah angkringan yang akan menjadi objek penelitian.
2.      Wawancara
Untuk mendapatkan fakta-fakta yang diperlukan, peneliti melakukan pengambilan data kualitatif di Angkringan wilayah Kecamatan Gedongtengen dengan metode wawancara.
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab secara langsung antara si penanya yang disebut pewawancara dengan si penjawab yang disebut responden (M. Sitorus, 2003:36). Metode wawancara dipilih karena biaya yang murah, mampu mencakup semua responden serta data lebih akurat. 
Tahapan wawancara dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah peninjauan tingkat pemahaman penjual dan pembeli angkringan akan metode pembersihan dan sanitasi yang sesuai dengan standar/aturan (dari instansi terkait). Bagian ini dinyatakan dengan multiple choice sangat baik, baik, cukup, kurang baik.  Bagian kedua adalah pengamatan dan pengambilan data apa saja yang telah dilakukan penjual dan pembeli untuk metode pembersihan dan sanitasi. Bagian ini dilakukan dengan membuat list ada atau tidak ada mengenai perangkat kebersihan dan sanitasi yang dibutuhkan, seperti tempat sampah, tempat cuci tangan. Bagian ketiga adalah pertanyaan untuk meninjau apa saja aspek dasar yang membuat pengusaha dan konsumen angkringan tidak/berat melakukan metode sanitasi dan kebersihan yang baik.  Bagian ini dinyatakan dengan setuju atau tidak setuju, selalu dilakukan atau tidak pernah dilakukan
3.      Penilaian
Penilaian berdasarkan parameter tergantung dari topik pembahasan. Topik pembahasannya  adalah pengetahuan tentang sanitasi, pentingnya sanitasi, intensitas pembersihan, cara pembersihan peralatan, intensitas penggantian air, pemakaian sabun, cara pembersihan perlatan, penggunaan alat untuk mencuci, pembersihan setelah makan, penggunaan desinfektan, penggunaan lap, pencucian lap, ketersediaan tempat sampah dan pemilahan sampah. Setiap parameter mrmpunyai nilai 0 sampai 5.
4.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan metode observasi kualitatif yaitu wawancara pengusaha dan konsumen angkringan di Gedongtengen Yogyakarta.
 Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi literatur. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dan hasil analisis kemudian direvisi, direduksi dan dari hasil akhir ditarik kesimpulan hasil penelitian.

4.      Hasil Dan Pembahasan
4.1  Informasi Demografi
Penelitian ini melibatkan masyarakat umum dari berbagai kalangan yang mempunyai hubungan langsung dengan populasi angkringan di Kecamatan Gedongtengen Daerah Istimewa Yogyakarta. Segmen demografi (n=21) ini dibagi menjadi beberapa variable, yaitu jenis kelamin, status pendidikan status responden. Tabel 1 menunjukkan data demografi 16 responden yang telah setuju untuk bergabung dalam penelitin ini. Berdasarkan hasil observasi wawancara, menunjukkan data 68,75% responden adalah laki-laki, 31,25% adalah perempuan. Status pendidikan tingkat SMA/derajat 87,5% dan Sarjana 12,5%, dengan responden pengusaha angkringan adalah 43,75% dan konsumen angkringan adalah 56,25%.
Tabel 1
Informasi Karakteristik Demografi Responden (n=21)



Tabel Nilai dan Presentase Tinjauan Sanitasi Angkringan





4.2  Tinjauan Tingkat Pengetahuan Sanitasi Pengusaha dan Konsumen Angkringan
1.      Penjual
Berdasarkan hasil survey dan wawancara yang dilakukan terhadap 7 angkringan di daerah Gedongtengen, diperoleh hasil yang disajikan dalam bentuk grafik berkut :


ØKeterangan :
X= Angkringan
Y= Jumlah nilai berdasarkan parameter

Dari data grafik diatas dapat dilihat bahwa angkringan keempat memiliki nilai tertinggi pada penerapan sanitasi diantara ketujuh angkringan lainnya. Hal ini disebabkan pada angkringan ketiga memperoleh rata-rata nilai tertinggi dari angkringan lainnya berdasarkan parameter penilaian tentang penerapann sanitasi. Adapun parameter penilaian sanitasi adalah sebagai berikut:
a.       Pengetahuan sanitasi
Berdasarkan hasil survey dan wawancara diketahui tingkat persentase pengetahuan pedagang angkringan tentang sanitasi dari ketujuh angkringan adalah sebesar 42.86%. Angka tersebut menunjukkan masih rendahnya tingkat pengetahuan pedangan akan pengertian sanitasi itu sendiri. Dengan rendahnya pengetahuan para pedagang mengenai sanitasi maka berpengaruh terhadap penerapan sanitasi pada angkringan yang dikelola. 
b.      Pentingnya sanitasi
Setelah mendapatkan hasil bahwa masih rendahnya pengetahuan pedagang akan sanitasi maka dilakukanlah sedikit penjelasan oleh tim mengenai sanitasi secara sederhana. Setelah edukasi diberikan sedikt kepada para pedagang maka kebanyakn dari mereka mengganggap bahwa sanitasi adalah suatu hal yang penting untuk diaplikasikan ke dalam usaha mereka. hal ersebut dibuktikan dengan tingginya persentase pedangan yang mengatakan seberapa pentingnya sanitasi bagi angkringan, yaitu sebesar 82.86%.
c.       Intensitas pembersihan
Kebersihan daam area angkringan menjadi salah satu parameter penilaian terhadap pedagang tentang penerapan sanitasi dalam usaha angkringan yang mereka jalani. Berdasarkan hasil survey dan wawancara diperoleh data sebesar 85.71%. Angka tersebut menunjukkan bahwa dari ketujuh pedangan angkringan sering melakukan pembersihan pada angkringannya. Secara umum pembersihan dilakukan pada saat sebelum buka dan setelah tutup angkringan. Namun, ada juga yang melakukan pembersihan pada saat tidak ada pengunjung, hal tersebut dilakukan agar kebersihan lingkungan usaha tetap terjaga.
d.      Cara pembersihan peralatan
Cara pembersihan pada angkringan seluruhnya menggunakan air dalam ember. Penggunaan ember dipilih karena angkringan letaknya tidak permanen sehingga sulit menyediakan kran untuk pembersihan peralatan makan.
e.       Penggantian air
Dalam pembilasan peralatan makan menggunakan ember, penggantian air sangat penting untuk dilakukan. Berdasarkan tingkat keseringan penggantian air, parameter tersebut diberikan penilaian sebesar 60%. Kebanyakan penggantian air dilakukan oleh pedagang apabila dirasa air sudah menjadi lebih kotor atau keruh. Bagi angkringan yang sering melalukan penggantian air maka diberikan poin yang tinggi, tetapi bagi angkringan yang jarang melakukan penggangguan air diberikan penilaian yang rendah.
f.       Pemakaian sabun
Besar persentase penggunaan sabun cuci piring pada pembersihan peralatan makan adalah sebesar 100%. Artinya seluruh pedagang angkringan membersihkan peralatan makan dengan sabun cuci piring. Untuk besar takaran penggunaan sabun, masih dalam ukuran berdasarkan kemauan dan perkiraan mereka.
g.       Digosok/dicelup
Selain pencucian dengan air dan sabun, untuk lebih membersihkann alat makan perlu dilakukan penggosokkan agar sisa makanan yang melekat pada peralatan makan dapat bersih. Setelah dilakukan survey dan wawancara diperoleh persentase sebesar 100% tentang penggosokkan alat makan saat dicuci.
h.      Penggunaan alat untuk mencuci
Setelah data diperoleh 100% tentang penggosokkan alat makan saat dicuci, selanjutnya perlu diketahui tentang alat seperti apa yang digunakan untuk membersihkan peralatan makan. Dari survey dan wawancara yang dilakukan diperoleh data persentase sebesar 91.43%. Hasil tersebut diperoleh karena tidak semua angkringan menggunakan alat pembersihan yang sesuai standar, ada yang menggunakan sabut dan plastik bekas. Untuk penilaian tertinggi diberikan pada angkringan yang menggunakan spons pada pembersihannya.
i.        Pembersihan setelah makan
Pembersihan tempat makan setelah digunakan oleh konsumen adalah hal yang penting digunakan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan pada angkrinan itu sendiri. Namun sangat disayangkan berdasarkan hasil survey yang dilakukan diperoleh hasil 0% tentang pembersihan area makan setelah digunakan oleh konsumen. Seluruh angkringan tidak membersihkan area makan setelah digunakan oleh konsumen karena biasanya konsumen membersihkan sendiri sisa makanannya dan membuang sisa makanannya ke tempat sampah yang biasanya terletak di bawah gerobak angkringan.
j.        Penggunaan desinfektan
Dalam survey tidak digunakan desinfektan untuk pembersihan area setelah makan. Bukan hanya tidak menggunakan desinfektan, tetapi juga tidak ada pembersihan area makan. Desinfektan sangat berguna untuk membunuh mikroba yang dapat menyebabkan penyakit.
k.      Penggunaan lap
Rata-rata pada angkringan tidak menggunakan kertas tissue sebagai alat untuk membersihkan tangan. Penggunaan lap adalah pilihan utama sebagian besar angkringan termask 7 angkringan yang diwawancara. Penggunaan lap pada angkringan yang disurvey seluruhnya memisahkan antara penggunaan lap untuk konsumen dengan penggunaan lap untuk perlatan makan.
l.        Pencucian lap
Sebelum lap digunakan, perlu dilakukan pencucian terhadap lap tersebut. Kenyataan di lapangan menunjukkan persentase frekuensi pencucian lap pada angkringan sebesar 80%. Hasil tersebut diperoleh karena sebagian besar angkringan pada ketujuh angkringan tersebut yang disurvey melakukan pencucian lap sebanyak tiga kali seminggu. Pencucian lap seharusnya dilakukan setiap hari karena pengunaan lap dengan frekuensi yang sering dan dengan orang yang berbeda telah menjadikan lap sebagai sarang kuman yang digunakan secara bergantian dan membawa penyakit bagi penggunanya.
m.    Ketersediaan tempat sampah
Pada survey yang telah dilakukan diperoleh fakta bahwa seluruh angkringan memiliki tempat sampah bagi konsumen untuk membuang sampahnya dan juga tempat sampah bagi pedagang. Tetapi sangat disayangkan bahwa jenis tempat sampah yang tersedia belum memadai, kebanyakan dari mereka menggunakan kardus sebagai tempat sampah
n.      Pemilahan sampah
Pada seluruh angkringan yang diwawancara tidak ada dilakukan pemilahan sampah. Pemilahan sampah digunakan agar sampah-sampah tidak bercampur. Bercampurnya sampah antara sampah basah dan kering dapat menjadi sarang penyakit.

Berdasarkan pengamatan , diperoleh hasil
1.      Tempat cuci tangan
Dari data yang telah dikumpulkan, 100% angkringan yang terdapat di daerah Gedongtengen tidak terdapat tempat cuci tangan. Tempat cuci tangan ini sangat penting untuk membersihkan kuman-kuman yang terdapat di tangan.
2.      Tata letak makanan
Data menunjukkan 100% angkringan yang ada meletakkan makanannya dekat dengan tungku masak. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap kebersihan dari makanan yang ada. Abu pembakaran dapat mengenai makanan tersebut.
3.      Tutup makanan
Berdasarkan data yang ada menunjukkan 14,28% atau 1 dari 7 angkringan menggunakan tutup makanan, sedangkan yang lainnya tidak memakai. Makanan ditutup berguna untuk tidak dihinggapi lalat atau sejenisnya yangmana dapat menyebabkan penyakit.
4.      Alat untuk mengambil makanan
Data menunjukkan 57,14 % atau 4 dari 7 angkringan menggunakan penjapit makanan untuk mengambil makanan. Penjapit difungsikan untuk memilah makanan yang akan dipilih. Selain itu, agar tangan tidak bersentuhan langsung dengan makanan dimana tangan terdapat banyak bakteri.


Tabel Nilai dan Presentase Tinjauan Pengetahuan Sanitasi Konsumen


Keterangan : Setiap angkringan terdiri dari tiga responden konsumen


B.  Konsumen.
1.  Tingkat Kebersihan.
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, menurut konsumen tingkat kebersihan angkringan di daerah Gedongtengen, Yogyakarta sebesar 83,81 %. Hal yang dinilai konsumen akan tingkat kebersihan angkringan tersebut meliputi seberapa sering konsumen mengunjungi angkringan yang bersangkutan, kebersihan alat makan, kebersihan meja angkringan, dan kenyamanan konsumen makan di angkringan tersebut.
Seberapa sering konsumen mengunjungi angkringan berkaitan dengan tingkat kebersihan angkringan tersebut karena seseorang sering mengunjungi suatu angkringan menandakan ada suatu hal yang menarik dari angkringan tersebut. Antara lain produk yang sesuai keinginan, tempat yang sesuai, dan salah satunya tempat yang bersih.
Kebersihan alat makan tentu menjadi hal yang sangat penting dalam suatu usaha makanan. Alat makan yang kotor dapat mempengaruhi rasa produk. Misalkan sabun yang akurang bersih saat pencucian, dapat menjadikan produk berasa sabun. Selain itu, contoh lain alat makan misalkan sendok yang masih tersisa sisa makanan menjadikan perasaan tidak nyaman saat melihat alat makan yang masih kotor dan dapat menjadi penyumbang virus bagi konsumen.
2.  Pengetahuan Sanitasi
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, tingkat pengetahuan konsumen tentang sanitasi sebesar 34,39 %. Tingkat pengetahuan tentang sanitasi sangat
dibutuhkan dalam menentukan tingkat kebersihan dan pemilihan angkringan yang ada.
3. Hubungan pengetahuan Sanitasi dengan penilaian tingkat kebersihan
Berdasarkan hasil olah data, tingkat kebersihan angkringan di daerah Gedongtengen Yogyakarta sebesar 83,81%, sementara pengetahuan konsumen tentang sanitasi sebesar 34,39%. Dari hasil tersebut, semakin tinggi pengetahuan akan sanitasi, semakin tinggi pula standar penilaian tingkat kebersihan suatu lingkungan/tempat.
Berdasarkan tingkat penilaian konsumen, tiingkat kebersihan rata-rata angkringan di daerah Gedongtengen sebesar 83,81% . Tingginya penilaian konsumen terhadap kebersihan angkringan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan konsumen yang masih rendah tentang sanitasi sehigga tidak terlalu menghiraukan kebersihan lingkungan ataupun peralatan yang digunakan pada angkringan.
Perbedaan tingkat pengetahuan tentang sanitsi inilah yang akhirnya memberikan perbedaan nilai yang cukup jauh antara nilai sanitasi dari sisi konsumen dengan sisi fakta di lapangan di mana nilai penerapan sanitasi menurut konsumen lebih tinggi daripada nilai penerapan sanitasi berdasrkan fakta.
2.      Dampak dan solusi
a.       Dampak
Pengetahuan sanitasi penjual angkringan di daerah Gedong Tengen tidak begitu baik. Walaupun beberapa alat penjamin higienis makanan sudah tersedia seperti penjepit makanan, sendok, garpu dan kebersihan lingkungan sudah dijamin. Namun, kehigienisan makanan sendiri kurang diperhatikan karena tutup makanan dan tata letak makanan yang diletakkan dekat dengan tungku menyebabkan makanan terkontaminasi kotoran yang dibawa oleh udara. Hal tersebut mengakibatkan makanan yang dihidangkan menjadi kotor, baik dari visual ataupun kandungan gizi nya. Sehingga, konsumen yang memperhatikan sanitasi angkringan akan menghindari angkringan tersebut dan dapat menyebabkan angkringan tersebut menjadi sumber penyakit.
b.      Solusi
Sanitasi angkringan di daerah gedong tengen sudah bagus dalam konteks kebersihan tempat dan peralatan makanan. Karena pembersihan tempat  dan pencucian alat makan dilakukan secara terus menerus jika sudah  terlihat kotor. Lingkungan sekitar juga telah dikondisikan agar tidak berdebu. Namun, alangkah baiknya jika ditambahkan sarana kebersihan untuk konsumen seperti tempat cuci tangan, tissue/serbet, penjepit makanan, dan penutup makanan. Meskipun beberapa angkringan di wilayah gedong tengen ini sudah memilikinya, namun sebagian besar belum ada. Sehingga, kenyamanan konsumen kurang diperhatikan. Selain itu, kehigienisan makanan tanpa  diberi penutup juga kurang baik karena polusi dari kendaraan bermotor yang berlalu lalang karena letak angkringan yang berada di pinggir jalan raya. Jadi, sebaiknya diberi sarana kebersihan, penutup makanan dan penggantian serbet secara teratur agar kenyamanan konsumen dan kehigienisan makanan dapat terjamim. Sehingga, angkringan dapat menjadi tempat makan yang memiliki sanitasi yang baik.
Selain itu pemerintah juga dapat melakukan sosialisasi mengenai sanitasi terhadap pemilik angkringan dan konsumen sehingga diharapkan pengetahuan akan sanitasi menjadi meningkat.
5.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi wawancara, menunjukkan data 68,75% responden adalah laki-laki, 31,25% adalah perempuan. Status pendidikan tingkat SMA/derajat 87,5% dan Sarjana 12,5%, dengan responden pengusaha angkringan adalah 43,75% dan konsumen angkringan adalah 56,25%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa anggapan konsumen terhadap angkringan yang berada di wilayah Gedongtengen Yogyakarta sebesar 83,81 %, sedangkan tingkat sanitasi angkringan berdasarkan penilaian yaitu sebesar 42,85%. Hal itu dikarenakan tingkat pengetahuan konsumen yang rendah tentang sanitasi yaitu hanya sebesar 34,29%. Solusi yang dapat dilakukan terhadap pemilik angkringan yaitu dengan menambah sarana kebersihan untuk konsumen seperti tempat cuci tangan, tissue, penjepit makanan, dan penutup makanan. Untuk pemerintah yaitu melakukan sosialisasi tentang sanitasi terhadap pemilik angkringan dan konsumennya.

a.      Daftar Pustaka
Afifi Hanan S. dan Abushelaibi Aisha A.2012.
Assessment Of Personal Hygiene
Knowledge, and Practices in Al Ain,
United Arab Emirates. Dalam jurnal
Food Control 25 (2012) halaman 249-
253
Fachris, AZ.2002. Tinjauan Sejarah dan
Arkeologi Peninggalan Buddhis di
Situs Bayem. Skripsi tidak  diterbitkan . Malang: Universitas Negeri Malang.
Kusumawati , Trika Yunita. 2013. Higiene dan
Sanitasi Makanan Nasi Krawu di Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik.
Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume
7 No.1
Nathaprawira, Andhika. 2014. Sarana
Pencuci Peralatan Makanan untuk Pedagang Pinggir Jalan. Dalam Jurnal Tingkat Sarjana Senirupa dan Desain
Sitorus, M.2003. Berkenalan dengan Sosiologi.
Jakarta: Airlangga.
Tim Sosiologi. 2003. Sosiologi. Jakarta:Ghalia
Indonesia
Yunus Salma P. J.dkk. 2015. Hubungan
Personal Higiene dan Fasilitas Sanitasi dengan Kontaminasi Escherichia Coli Pada Makanan di Rumah Makan Padang Kota Manado dan Kota Bitung. Dalam Jurnal Jikmu

Volume 5 No 2 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar