Prodi Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada
ABSTRAK
Sanitasi pangan erat kaitannya dengan
kebersihan dalam tahap persiapan, pengolahan, penyimpanan serta penyajian
makanan. Warung Angkringan merupakan salah satu jenis usaha penjaja makanan yang
menyimpan potensi ekonomi besar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai salah
satu jenis usaha pelayanan umum yang mengolah dan menyediakan makanan, maka
angkringan memiliki potensi yang cukup besar untuk menimbulkan gangguan
kesehatan atau penyakit bawaan makanan yang dihasilkannya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi demografi, mengetahui tingkat pengetahuan penjual dan konsumen angkringan Gedongtengen mengenai kebersihan dan sanitasi dalam hubungannya dengan keamanan pangan, mengetahui dampak dan solusi berdasarkan tinjauan sanitasi pada angkringan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif pada jenis deskriptif-analitif. Tahapan penelitian adalah observasi, wawancara, pengumpulan data dan penilaian. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan info demografi menunjukkan data 68,75% responden adalah laki-laki, 31,25% adalah perempuan. Status pendidikan tingkat SMA/derajat 87,5% dan Sarjana 12,5%, dengan responden pengusaha angkringan adalah 43,75% dan konsumen angkringan adalah 56,25%. Kemudian tingkat pengetahuan sanitasi menunjukan hasil bahwa anggapan konsumen terhadap angkringan yang berada di wilayah Gedongtengen Yogyakarta sebesar 83,81 %, sedangkan tingkat sanitasi angkringan berdasarkan penilaian yaitu sebesar 42,85%. Hal itu meunjukan tingkat pengetahuan konsumen yang rendah mengenai sanitasi yaitu hanya sebesar 34,28%.
Variable
|
%
|
Jenis Kelamin
|
|
·
Laki-laki
·
Perempuan
|
68,75
|
31,25
|
|
Status Pendidikan
|
|
·
SMA/Sederajat
·
Sarjana
|
89,29
|
10,71
|
|
Status Responden
|
|
·
Pengusaha
Angkringan
·
Konsumen
Angkringan
|
25
|
75
|
|
Parameter
|
Angkringan
|
Presentase(%)
|
||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
||
Pengetahuan sanitasi
|
1
|
1
|
3
|
5
|
1
|
3
|
1
|
42,86
|
Pentingnya sanitasi
|
3
|
4
|
3
|
5
|
4
|
5
|
5
|
82,86
|
Intensitas Pembersihan
|
5
|
5
|
5
|
4
|
3
|
3
|
5
|
85,71
|
Cara Pembersihan Peralatan
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
60,00
|
Penggantian air
|
4
|
2
|
3
|
4
|
3
|
2
|
3
|
60,00
|
Pemakaian sabun
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
100,00
|
Pencucian digosok/dicelup
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
100,00
|
Penggunaan alat pencuci
|
5
|
3
|
5
|
5
|
4
|
5
|
5
|
91,43
|
Pembersihan tempat makan
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0,00
|
Penggunaan desinfektan
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0,00
|
Penggunaan lap
|
3
|
5
|
3
|
5
|
4
|
4
|
4
|
80,00
|
Pencucian lap
|
4
|
3
|
5
|
4
|
5
|
5
|
2
|
80,00
|
Ketersediaan tempat sampah
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
100,00
|
Pemilahan sampah
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0,00
|
Jumlah
|
43
|
41
|
45
|
50
|
42
|
45
|
43
|
|
Parameter
|
Angkringan
|
Jumlah
|
Presentase (%)
|
||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
Total
|
||
Tingkat Kebersihan
|
11
|
14
|
14
|
15
|
13
|
11
|
10
|
88
|
83,81
|
Pengetahuan Sanitasi
|
4
|
5
|
4
|
6
|
7
|
5
|
5
|
36
|
34,29
|
Kata Kunci : Angkringan, Pangan,
Sanitasi
1.
Pendahuluan
Masalah
keamanan pangan banyak disebabkan oleh kondisi kebersihan dan sanitasi yang
rendah sehingga menimbulkan kontaminasi bahan pangan baik pada makanan maupun
minuman. Saat ini kesehatan adalah salah satu perhatian utama dalam isu
keamanan pangan. Tidak diragukan lagi, jumlah orang yang terkena penyakit
akibat pangan telah meningkat secara signifikan.
Afifi
dan Abushelaibi (2012) menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan personal hygine practice dalam
pelaksanaannya di masyarakat, bahkan pada tingkat pendidikan yang tinggi
sekalipun.
Kasus-kasus
yang dilaporkan di negara maju diperkirakan hanya 5 sampai 10% sedangkan di
banyak negara berkembang data kuantitatif yang dapat diandalkan pada umunya
sangat terbatas. Kejadian penyakit yang ditularkan melalui makanan di Indonesia
cukup besar ini terlihat dari masih tingginya penyakit infeksi seperti typus,
kolera, disentri, dan sebagainya. Dari 90% kasus keracunan pangan disebabkan
oleh mikroba (Yunus, 2015)
Sanitasi
pangan erat kaitannya dengan kebersihan dalam tahap persiapan, pengolahan,
penyimpanan serta penyajian makanan. Penyediaan air bersih dan aman, pemilihan
bahan-bahan mentah yang bermutu tinggi dan penanganan yang higiene selama tahap
persiapan dan tahap penyajian. Selain itu seluruh peralatan yang akan digunakan
dan bersentuhan dengan bahan pangan harus dijaga agar selalu dalam kondisi
bersih dengan lingkungan kerja yang bersih.
Warung
Angkringan merupakan salah satu jenis usaha penjaja makanan yang menyimpan
potensi ekonomi besar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Konsep kesederhanaan serta
keunikan tempat telah menjadi daya tarik Warung Angkringan menjadi salah satu
jenis usaha icon Daerah Istimewa
Yogyakarta. Salah satu daerah yang mempunyai potensi usaha angkringan di
Yogyakarta adalah di wilayah Kecamatan Gedongtengen. Selain menawarkan harga
makanan yang murah, angkringan di wilayah ini banyak dipilih karena lokasinya
strategis dan mudah dijangkau. Jumlah
angkringan selalu meningkat seiring dengan permintaan masyarakat akan kebutuhan
terhadap makanan yang disediakan di luar rumah,
Sebagai salah satu jenis usaha pelayanan umum
yang mengolah dan menyediakan makanan, maka angkringan memiliki potensi yang
cukup besar untuk menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit bawaan makanan
yang dihasilkannya. Dengan demikian kualitas makanan yang dihasilkan, disajikan
dan dijual oleh penjual makanan harus memenuhi syarat kesehatan seperti faktor
lokasi dan bangunan, fasilitas sanitasi, peralatan, pengolahan makanan yang
baik dan penjamah makanannya sendiri.
Yogyakarta
merupakan salah satu kota besar di Indonesia dengan potensi ekonomi, wisata,
budaya dan pendidikan yang dimiliki guna mendukung terciptanya nilai kebersihan
dan sanitasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi demografi
, mengetahui tingkat pengetahuan penjual dan konsumen angkringan Gedongtengen
mengenai kebersihan dan sanitasi dalam hubungannya dengan keamanan pangan, mengetahui
dampak dan solusi berdasarkan tinjauan
sanitasi pada angkringan.
2.
Tinjauan Pustaka
2.1
Sanitasi
Sanitasi makanan (Sihite 2009:91)
merupakan suatu usaha pencegahan untuk membebaskan makanan dan minuman dari
segala bahaya yang dapat mengganggu, merusak kesehatan, mulai dari minuman itu
sebelum diproduksi
Makanan yang terjamin kesehatan
dan keselamatannya akan terwujud bila ditunjang dengan keadaan higiene dan
sanitasi yang baik dan dipelihara oleh pengelola dan masyarakat. Kualitas
higiene dan sanitasi yang dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor
penjamah makanan dan faktor lingkungan di mana makanan tersebut diolah,
termasuk fasilitas pengolahan makanan yang tersedia (Kusumawati, 2013).
2.2 Angkringan
Angkringan merupakan tempat usaha
penjual makanan dan miuman (warung)
kecil dan sederhana. Warung ini mempunyai keunikan dengan gerobak bertendanya yang
menawarkan berbagai hidangan yang cukup murah (www.infojogja.com). Konsep kesederhanaan
serta keunikan tempat ini telah menjadi daya tarik Warung Angkringan menjadi
salah satu jenis usaha icon Daerah
Istimewa Yogyakarta. Warung ini mempunyai potensi besar karena tempatnya yang
strategis dan sudah menjadi alah satu pilihan masyarakat dengan harga
makanannya yang murah.
Pengusaha angkrigan yang berperan
sebagai pedagang mempunyai peran dan fungsinya sendiri dalam membentuk kultur
secara sosial. Di satu sisi keberdaan mereka merupakan suatu kebutuhan bagi
sebagian besar dan merupakan salah satu roda yang menggerakan sektor
perdagangan di suatu kota. Namun disisi lainkehadirannya mendatangkan
permasalahan lain yang berdampak pada keseimbangan lingkungan kota. Salah satu
masalah yang signifikan itu adalah masalah kebersihan. Pedagang (angkringan)
cenderung memiliki metode masing-masing dalam hal metode kebersihan yang
digunakan. Tidak ada standar khusus yang ditetapkan untuk menyamakan tingkat
pemahaman mengenai pengetahua kebersihan dan metode sanitasi (Nataprawira,
2014).
3.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
waktu pertengahan bulan November dan awal Desember. Pengambilan data melibatkan
responden 10 usaha penjaja angkringan dan 30 konsumen di Kecamatan Gedongtengen
Yogyakarta.
3.1 Pendekatan
dan Jenis Penelitian
Jenis pendekatan yang digunakan pada
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif pada jenis deskriptif-analitif.
Keutamaan penelitian kualitatif menurut Chad Wick (dalam Fachris, 2002:85)
adalah suatu penelitian yang menekankan upaya untuk mendekati data dan memiliki
kekhasan dalam pemahaman data secara mendalam dengan penekanan pada
intepretasi. Langkah awal yang dilakukan adalah berupa usaha untuk
mendeskripsikan gejala secara lengkap dalam aspek yang diselidiki. Data yang
sudah diperoleh, diolah, dan disajikan dalam bentuk uraian naratif bukan dalam
bentuk statistik.
Sedangkan jenis penelitian
deskriptif-analitis adalah yang hanya melukiskan, memaparkan, menuliskan, dan
melaporkan suatu keadaan suatu objek suatu peristiwa fakta adanya dan berupa
penyingkapan fakta (Tim sosiologi, 2000:95).
3.2. Tahapan
Penelitian
1.
Observasi
Untuk mengetauhi keadaan objek yang
diteliti secara langsung. Observasi ini dilakukan dengan cara mendata sejumlah
angkringan yang akan menjadi objek penelitian.
2.
Wawancara
Untuk mendapatkan fakta-fakta yang
diperlukan, peneliti melakukan pengambilan data kualitatif di Angkringan
wilayah Kecamatan Gedongtengen dengan metode wawancara.
Wawancara adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab secara langsung
antara si penanya yang disebut pewawancara dengan si penjawab yang disebut
responden (M. Sitorus, 2003:36). Metode wawancara dipilih karena biaya yang
murah, mampu mencakup semua responden serta data lebih akurat.
Tahapan wawancara dibagi menjadi tiga
bagian. Bagian pertama adalah peninjauan tingkat pemahaman penjual dan
pembeli angkringan akan metode pembersihan dan sanitasi yang sesuai dengan
standar/aturan (dari instansi terkait). Bagian ini dinyatakan dengan multiple
choice sangat baik, baik, cukup, kurang baik. Bagian kedua adalah pengamatan dan pengambilan
data apa saja yang telah dilakukan penjual dan pembeli untuk metode pembersihan
dan sanitasi. Bagian ini dilakukan dengan membuat list ada atau tidak ada
mengenai perangkat kebersihan dan sanitasi yang dibutuhkan, seperti tempat
sampah, tempat cuci tangan. Bagian ketiga adalah pertanyaan untuk meninjau apa
saja aspek dasar yang membuat pengusaha dan konsumen angkringan tidak/berat
melakukan metode sanitasi dan kebersihan yang baik. Bagian ini dinyatakan dengan setuju atau tidak
setuju, selalu dilakukan atau tidak pernah dilakukan
3. Penilaian
Penilaian
berdasarkan parameter tergantung dari topik pembahasan. Topik
pembahasannya adalah pengetahuan tentang
sanitasi, pentingnya sanitasi, intensitas pembersihan, cara pembersihan
peralatan, intensitas penggantian air, pemakaian sabun, cara pembersihan
perlatan, penggunaan alat untuk mencuci, pembersihan setelah makan, penggunaan
desinfektan, penggunaan lap, pencucian lap, ketersediaan tempat sampah dan
pemilahan sampah. Setiap parameter mrmpunyai nilai 0 sampai 5.
4.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan
metode observasi kualitatif yaitu wawancara pengusaha dan konsumen angkringan
di Gedongtengen Yogyakarta.
Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan
studi literatur. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dan hasil
analisis kemudian direvisi,
direduksi dan dari hasil akhir ditarik kesimpulan hasil penelitian.
4.
Hasil Dan Pembahasan
4.1 Informasi Demografi
Penelitian
ini melibatkan masyarakat umum dari berbagai kalangan yang mempunyai hubungan
langsung dengan populasi angkringan di Kecamatan Gedongtengen Daerah Istimewa
Yogyakarta. Segmen demografi (n=21) ini dibagi menjadi beberapa variable, yaitu
jenis kelamin, status pendidikan status responden. Tabel 1 menunjukkan data
demografi 16 responden yang telah setuju untuk bergabung dalam penelitin ini.
Berdasarkan hasil observasi wawancara, menunjukkan data 68,75% responden adalah
laki-laki, 31,25% adalah perempuan. Status pendidikan tingkat SMA/derajat 87,5%
dan Sarjana 12,5%, dengan responden pengusaha angkringan adalah 43,75% dan
konsumen angkringan adalah 56,25%.
Tabel 1
Informasi
Karakteristik Demografi Responden (n=21)
Tabel
Nilai dan Presentase Tinjauan Sanitasi Angkringan
4.2 Tinjauan
Tingkat Pengetahuan Sanitasi Pengusaha dan Konsumen Angkringan
1.
Penjual
Berdasarkan
hasil survey dan wawancara yang dilakukan terhadap 7 angkringan di daerah
Gedongtengen, diperoleh hasil yang disajikan dalam bentuk grafik berkut :

ØKeterangan
:
X=
Angkringan
Y=
Jumlah nilai berdasarkan parameter
Dari
data grafik diatas dapat dilihat bahwa angkringan keempat memiliki nilai
tertinggi pada penerapan sanitasi diantara ketujuh angkringan lainnya. Hal ini
disebabkan pada angkringan ketiga memperoleh rata-rata nilai tertinggi dari
angkringan lainnya berdasarkan parameter penilaian tentang penerapann sanitasi.
Adapun parameter penilaian sanitasi adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan sanitasi
Berdasarkan
hasil survey dan wawancara diketahui tingkat persentase pengetahuan pedagang angkringan
tentang sanitasi dari ketujuh angkringan adalah sebesar 42.86%. Angka tersebut
menunjukkan masih rendahnya tingkat pengetahuan pedangan akan pengertian
sanitasi itu sendiri. Dengan rendahnya pengetahuan para pedagang mengenai
sanitasi maka berpengaruh terhadap penerapan sanitasi pada angkringan yang
dikelola.
b. Pentingnya sanitasi
Setelah
mendapatkan hasil bahwa masih rendahnya pengetahuan pedagang akan sanitasi maka
dilakukanlah sedikit penjelasan oleh tim mengenai sanitasi secara sederhana.
Setelah edukasi diberikan sedikt kepada para pedagang maka kebanyakn dari
mereka mengganggap bahwa sanitasi adalah suatu hal yang penting untuk
diaplikasikan ke dalam usaha mereka. hal ersebut dibuktikan dengan tingginya
persentase pedangan yang mengatakan seberapa pentingnya sanitasi bagi
angkringan, yaitu sebesar 82.86%.
c. Intensitas pembersihan
Kebersihan
daam area angkringan menjadi salah satu parameter penilaian terhadap pedagang
tentang penerapan sanitasi dalam usaha angkringan yang mereka jalani. Berdasarkan
hasil survey dan wawancara diperoleh data sebesar 85.71%. Angka tersebut
menunjukkan bahwa dari ketujuh pedangan angkringan sering melakukan pembersihan
pada angkringannya. Secara umum pembersihan dilakukan pada saat sebelum buka
dan setelah tutup angkringan. Namun, ada juga yang melakukan pembersihan pada
saat tidak ada pengunjung, hal tersebut dilakukan agar kebersihan lingkungan
usaha tetap terjaga.
d. Cara pembersihan peralatan
Cara
pembersihan pada angkringan seluruhnya menggunakan air dalam ember. Penggunaan
ember dipilih karena angkringan letaknya tidak permanen sehingga sulit
menyediakan kran untuk pembersihan peralatan makan.
e. Penggantian air
Dalam
pembilasan peralatan makan menggunakan ember, penggantian air sangat penting
untuk dilakukan. Berdasarkan tingkat keseringan penggantian air, parameter
tersebut diberikan penilaian sebesar 60%. Kebanyakan penggantian air dilakukan
oleh pedagang apabila dirasa air sudah menjadi lebih kotor atau keruh. Bagi
angkringan yang sering melalukan penggantian air maka diberikan poin yang
tinggi, tetapi bagi angkringan yang jarang melakukan penggangguan air diberikan
penilaian yang rendah.
f. Pemakaian sabun
Besar
persentase penggunaan sabun cuci piring pada pembersihan peralatan makan adalah
sebesar 100%. Artinya seluruh pedagang angkringan membersihkan peralatan makan
dengan sabun cuci piring. Untuk besar takaran penggunaan sabun, masih dalam
ukuran berdasarkan kemauan dan perkiraan mereka.
g. Digosok/dicelup
Selain
pencucian dengan air dan sabun, untuk lebih membersihkann alat makan perlu
dilakukan penggosokkan agar sisa makanan yang melekat pada peralatan makan
dapat bersih. Setelah dilakukan survey dan wawancara diperoleh persentase
sebesar 100% tentang penggosokkan alat makan saat dicuci.
h. Penggunaan alat untuk mencuci
Setelah
data diperoleh 100% tentang penggosokkan alat makan saat dicuci, selanjutnya
perlu diketahui tentang alat seperti apa yang digunakan untuk membersihkan
peralatan makan. Dari survey dan wawancara yang dilakukan diperoleh data
persentase sebesar 91.43%. Hasil tersebut diperoleh karena tidak semua
angkringan menggunakan alat pembersihan yang sesuai standar, ada yang
menggunakan sabut dan plastik bekas. Untuk penilaian tertinggi diberikan pada
angkringan yang menggunakan spons pada pembersihannya.
i.
Pembersihan
setelah makan
Pembersihan
tempat makan setelah digunakan oleh konsumen adalah hal yang penting digunakan
untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan pada angkrinan itu sendiri. Namun
sangat disayangkan berdasarkan hasil survey yang dilakukan diperoleh hasil 0%
tentang pembersihan area makan setelah digunakan oleh konsumen. Seluruh
angkringan tidak membersihkan area makan setelah digunakan oleh konsumen karena
biasanya konsumen membersihkan sendiri sisa makanannya dan membuang sisa
makanannya ke tempat sampah yang biasanya terletak di bawah gerobak angkringan.
j.
Penggunaan
desinfektan
Dalam
survey tidak digunakan desinfektan untuk pembersihan area setelah makan. Bukan
hanya tidak menggunakan desinfektan, tetapi juga tidak ada pembersihan area
makan. Desinfektan sangat berguna untuk membunuh mikroba yang dapat menyebabkan
penyakit.
k. Penggunaan lap
Rata-rata
pada angkringan tidak menggunakan kertas tissue sebagai alat untuk membersihkan
tangan. Penggunaan lap adalah pilihan utama sebagian besar angkringan termask 7
angkringan yang diwawancara. Penggunaan lap pada angkringan yang disurvey
seluruhnya memisahkan antara penggunaan lap untuk konsumen dengan penggunaan
lap untuk perlatan makan.
l.
Pencucian
lap
Sebelum
lap digunakan, perlu dilakukan pencucian terhadap lap tersebut. Kenyataan di
lapangan menunjukkan persentase frekuensi pencucian lap pada angkringan sebesar
80%. Hasil tersebut diperoleh karena sebagian besar angkringan pada ketujuh
angkringan tersebut yang disurvey melakukan pencucian lap sebanyak tiga kali
seminggu. Pencucian lap seharusnya dilakukan setiap hari karena pengunaan lap
dengan frekuensi yang sering dan dengan orang yang berbeda telah menjadikan lap
sebagai sarang kuman yang digunakan secara bergantian dan membawa penyakit bagi
penggunanya.
m. Ketersediaan tempat sampah
Pada
survey yang telah dilakukan diperoleh fakta bahwa seluruh angkringan memiliki
tempat sampah bagi konsumen untuk membuang sampahnya dan juga tempat sampah
bagi pedagang. Tetapi sangat disayangkan bahwa jenis tempat sampah yang tersedia
belum memadai, kebanyakan dari mereka menggunakan kardus sebagai tempat sampah
n. Pemilahan sampah
Pada
seluruh angkringan yang diwawancara tidak ada dilakukan pemilahan sampah.
Pemilahan sampah digunakan agar sampah-sampah tidak bercampur. Bercampurnya
sampah antara sampah basah dan kering dapat menjadi sarang penyakit.
Berdasarkan
pengamatan , diperoleh hasil
1. Tempat cuci tangan
Dari
data yang telah dikumpulkan, 100% angkringan yang terdapat di daerah
Gedongtengen tidak terdapat tempat cuci tangan. Tempat cuci tangan ini sangat
penting untuk membersihkan kuman-kuman yang terdapat di tangan.
2. Tata letak makanan
Data
menunjukkan 100% angkringan yang ada meletakkan makanannya dekat dengan tungku
masak. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap kebersihan dari makanan yang
ada. Abu pembakaran dapat mengenai makanan tersebut.
3. Tutup makanan
Berdasarkan
data yang ada menunjukkan 14,28% atau 1 dari 7 angkringan menggunakan tutup
makanan, sedangkan yang lainnya tidak memakai. Makanan ditutup berguna untuk tidak
dihinggapi lalat atau sejenisnya yangmana dapat menyebabkan penyakit.
4. Alat untuk mengambil makanan
Data
menunjukkan 57,14 % atau 4 dari 7 angkringan menggunakan penjapit makanan untuk
mengambil makanan. Penjapit difungsikan untuk memilah makanan yang akan
dipilih. Selain itu, agar tangan tidak bersentuhan langsung dengan makanan
dimana tangan terdapat banyak bakteri.
Tabel
Nilai dan Presentase Tinjauan Pengetahuan Sanitasi Konsumen
Keterangan : Setiap
angkringan terdiri dari tiga responden konsumen
B. Konsumen.
1. Tingkat Kebersihan.
Berdasarkan
data yang telah dikumpulkan, menurut konsumen tingkat kebersihan angkringan di
daerah Gedongtengen, Yogyakarta sebesar 83,81 %. Hal yang dinilai konsumen akan
tingkat kebersihan angkringan tersebut meliputi seberapa sering konsumen
mengunjungi angkringan yang bersangkutan, kebersihan alat makan, kebersihan
meja angkringan, dan kenyamanan konsumen makan di angkringan tersebut.
Seberapa
sering konsumen mengunjungi angkringan berkaitan dengan tingkat kebersihan
angkringan tersebut karena seseorang sering mengunjungi suatu angkringan
menandakan ada suatu hal yang menarik dari angkringan tersebut. Antara lain
produk yang sesuai keinginan, tempat yang sesuai, dan salah satunya tempat yang
bersih.
Kebersihan
alat makan tentu menjadi hal yang sangat penting dalam suatu usaha makanan.
Alat makan yang kotor dapat mempengaruhi rasa produk. Misalkan sabun yang
akurang bersih saat pencucian, dapat menjadikan produk berasa sabun. Selain
itu, contoh lain alat makan misalkan sendok yang masih tersisa sisa makanan
menjadikan perasaan tidak nyaman saat melihat alat makan yang masih kotor dan
dapat menjadi penyumbang virus bagi konsumen.
2. Pengetahuan Sanitasi
Berdasarkan
data yang telah dikumpulkan, tingkat pengetahuan konsumen tentang sanitasi
sebesar 34,39 %. Tingkat pengetahuan tentang sanitasi sangat
dibutuhkan dalam
menentukan tingkat kebersihan dan pemilihan angkringan yang ada.
3.
Hubungan pengetahuan Sanitasi dengan penilaian tingkat kebersihan
Berdasarkan
hasil olah data, tingkat kebersihan angkringan di daerah Gedongtengen
Yogyakarta sebesar 83,81%, sementara pengetahuan konsumen tentang sanitasi
sebesar 34,39%. Dari hasil tersebut, semakin tinggi pengetahuan akan sanitasi,
semakin tinggi pula standar penilaian tingkat kebersihan suatu
lingkungan/tempat.
Berdasarkan
tingkat penilaian konsumen, tiingkat kebersihan rata-rata angkringan di daerah
Gedongtengen sebesar 83,81% . Tingginya penilaian konsumen terhadap kebersihan
angkringan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan konsumen yang masih rendah
tentang sanitasi sehigga tidak terlalu menghiraukan kebersihan lingkungan
ataupun peralatan yang digunakan pada angkringan.
Perbedaan
tingkat pengetahuan tentang sanitsi inilah yang akhirnya memberikan perbedaan
nilai yang cukup jauh antara nilai sanitasi dari sisi konsumen dengan sisi
fakta di lapangan di mana nilai penerapan sanitasi menurut konsumen lebih
tinggi daripada nilai penerapan sanitasi berdasrkan fakta.
2.
Dampak dan solusi
a.
Dampak
Pengetahuan
sanitasi penjual angkringan di daerah Gedong Tengen tidak begitu baik. Walaupun
beberapa alat penjamin higienis makanan sudah tersedia seperti penjepit
makanan, sendok, garpu dan kebersihan lingkungan sudah dijamin. Namun,
kehigienisan makanan sendiri kurang diperhatikan karena tutup makanan dan tata
letak makanan yang diletakkan dekat dengan tungku menyebabkan makanan terkontaminasi
kotoran yang dibawa oleh udara. Hal tersebut mengakibatkan makanan yang
dihidangkan menjadi kotor, baik dari visual ataupun kandungan gizi nya.
Sehingga, konsumen yang memperhatikan sanitasi angkringan akan menghindari
angkringan tersebut dan dapat menyebabkan angkringan tersebut menjadi sumber
penyakit.
b.
Solusi
Sanitasi
angkringan di daerah gedong tengen sudah bagus dalam konteks kebersihan tempat
dan peralatan makanan. Karena pembersihan tempat dan pencucian alat makan dilakukan secara
terus menerus jika sudah terlihat kotor.
Lingkungan sekitar juga telah dikondisikan agar tidak berdebu. Namun, alangkah
baiknya jika ditambahkan sarana kebersihan untuk konsumen seperti tempat cuci
tangan, tissue/serbet, penjepit makanan, dan penutup makanan. Meskipun beberapa
angkringan di wilayah gedong tengen ini sudah memilikinya, namun sebagian besar
belum ada. Sehingga, kenyamanan konsumen kurang diperhatikan. Selain itu,
kehigienisan makanan tanpa diberi
penutup juga kurang baik karena polusi dari kendaraan bermotor yang berlalu
lalang karena letak angkringan yang berada di pinggir jalan raya. Jadi,
sebaiknya diberi sarana kebersihan, penutup makanan dan penggantian serbet
secara teratur agar kenyamanan konsumen dan kehigienisan makanan dapat terjamim.
Sehingga, angkringan dapat menjadi tempat makan yang memiliki sanitasi yang
baik.
Selain
itu pemerintah juga dapat melakukan sosialisasi mengenai sanitasi terhadap
pemilik angkringan dan konsumen sehingga diharapkan pengetahuan akan sanitasi
menjadi meningkat.
5.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil observasi wawancara, menunjukkan data 68,75% responden adalah laki-laki,
31,25% adalah perempuan. Status pendidikan tingkat SMA/derajat 87,5% dan
Sarjana 12,5%, dengan responden pengusaha angkringan adalah 43,75% dan konsumen
angkringan adalah 56,25%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,
didapatkan hasil bahwa anggapan konsumen terhadap angkringan yang berada di
wilayah Gedongtengen Yogyakarta sebesar 83,81 %, sedangkan tingkat sanitasi
angkringan berdasarkan penilaian yaitu sebesar 42,85%. Hal itu dikarenakan
tingkat pengetahuan konsumen yang rendah tentang sanitasi yaitu hanya sebesar
34,29%. Solusi yang dapat dilakukan
terhadap pemilik angkringan yaitu dengan menambah sarana kebersihan untuk
konsumen seperti tempat cuci tangan, tissue, penjepit makanan, dan penutup
makanan. Untuk pemerintah yaitu melakukan sosialisasi tentang sanitasi terhadap
pemilik angkringan dan konsumennya.
a.
Daftar Pustaka
Afifi Hanan
S. dan
Abushelaibi Aisha A.2012.
Assessment Of Personal Hygiene
Knowledge, and Practices in Al
Ain,
United Arab Emirates. Dalam jurnal
Food
Control 25 (2012) halaman 249-
253
Fachris, AZ.2002. Tinjauan Sejarah dan
Arkeologi Peninggalan Buddhis di
Situs Bayem. Skripsi tidak diterbitkan . Malang: Universitas Negeri
Malang.
Kusumawati
, Trika Yunita. 2013. Higiene dan
Sanitasi Makanan Nasi Krawu di Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik.
Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume
7 No.1
Nathaprawira, Andhika.
2014. Sarana
Pencuci
Peralatan Makanan untuk Pedagang Pinggir Jalan. Dalam
Jurnal Tingkat Sarjana Senirupa dan Desain
Sitorus, M.2003. Berkenalan dengan Sosiologi.
Jakarta:
Airlangga.
Tim Sosiologi. 2003. Sosiologi.
Jakarta:Ghalia
Indonesia
Yunus Salma P. J.dkk. 2015. Hubungan
Personal Higiene dan Fasilitas Sanitasi dengan Kontaminasi Escherichia Coli Pada Makanan di
Rumah Makan Padang Kota Manado dan Kota Bitung. Dalam
Jurnal Jikmu
Volume 5 No 2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar