Rantai pasok pangan terdiri dari
organisasi yang bertanggung jawab untuk
produksi dan distribusi produk sayuran, hewani atau pangan olahan. Secara umum rantai
pasok pangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Rantai Pasok untuk Produk Segar Pertanian (sayuran, bunga, buah)
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Secara
umum, rantai ini terdiri dari petani, distributor, tengkulak, importir, exportir, retailer, jasa supplier
dan toko. Pada dasarnya, semua pelaku rantai meninggalkan karakteristik
intrinsik pada produk yang ditanam dan diproduksi. Proses utamanya adalah penanganan,
penyimpanan, pengemasan, pengangkutan dan terutama perdagangan.
2. 2. Rantai Pasok Produk Pangan
Olahan (daging potong, snack, jus, makanan pencuci mulut, produk makanan
kaleng)
Gambar 2. Produk Jus Olahan
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Pada
jaringan rantai ini, bahan mentah pertanian digunakan sebagai bahan baku untuk
menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Dalam sebagian besar
kasus, pengawetan dan penyimpanan dalam kondisi khusus dapat memperpanjang umur
simpan produk.
Dewasa ini, aktor yang banyak
terlibat pada dua rantai tersebut yaitu petani,pedagang, pengolah, retailer mengerti betul bahwa kualitas spesifik asli produk
dapat mengalami penurunan/kerusakan karena tindakan yang tidak memadai dari
tiap rantai. Penurunan kualitas produk khususnya di produk segar pertanian akan
berdampak pada turunnya harga jual dan masa simpan produk. Hal ini akan
sangat merugikan bagi rantai awal dan akhir yang menjual produk ke konsumen.
Karena karakteristik produk makanan yang
spesifik, kini prinsip kemitraan telah mendapat banyak perhatian selama
beberapa tahun terakhir di jaringan rantai pasok pangan. Sangat penting bagi
produsen industri untuk memberi kontrak kepada pemasok untuk menjamin pasokan
bahan baku dengan volume yang tepat, kuantitas yang tepat, kualitas yang tepat,
di tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat. Selanjutnya, mereka
mengkoordinasikan waktu penyediaan barang dengan pemasok agar sesuai dengan
ketersediaan kapasitas.
Konsep koordinasi dalam kemitraan perlu
mengembangkan deskripsi yang lebih realistis mengenai kondisi dan situasi nyata
dalam rantai pasok produk pangan. Mekanisme koordinasi harus ditentukan untuk
mengelola saling ketergantungan antar tahap dan antar aktor mitra dalam rantai
pasok pangan. Mekanisme koordinasi dipilih berdasarkan kegiatan yang akan
dikelola dan karakteristik pelaku yang terlibat dalam proses koordinasi.
Kemudian, mekanisme tersebut dianalisis lebih lanjut untuk memastikan bahwa ini
adalah mekanisme koordinasi yang paling sesuai untuk meningkatkan kinerja
keseluruhan rantai pasokan pangan agroinustri. Pengembangan proses koordinasi mitra
yang tepat dalam model rantai pasokan pertanian sangat dibutuhkan, dimana
hasilnya akan menguntungkan industri dan konsumen akhir.
Dewasa ini, saluran mitra dengan supermarket
dan restoran memberi manfaat lebih bagi petani daripada pasar tradisional. Manfaat
itu adalah tidak hanya melalui harga jual yang lebih tinggi, tetapi juga dapat
meningkatkan pengetahuan petani dalam manajemen bisnis, termasuk perencanaan
produksi, teknik budidaya, manajemen kualitas, penanganan pasca panen dan
pemasaran kolektif melalui kontrak tertulis. Kedepan pemerintah harus mengelola
jenis transaksi di pasar tradisional/grosir untuk memperbaiki kondisi
pengelolaan usaha petani sayuran segar dengan menerapkan mekanisme transaksi
yang digunakan di supermarket agar semua petani merasakan nilai tambah dari
jaringan rantai pasok pangan.
Sumber :
Van
der Vorst, Jack G.A.J, da Silva, Carlos A, Trienekens, Jacques H. 2007. Agro-industrial
Supply Chain Management : Concept
and Application. Food and Agricultural Organization of
The United Nations (FAO). Rome
Handayati,
Yuanita, Simatupang, Togar M, Perdana, Tomy. 2015. Agrifood Supply Chain
Coordination
: The State of the Art and Recent Development. Journal of Logistic, Res (2015) 8;5 Springer


Tidak ada komentar:
Posting Komentar