Halaman

Jumat, 23 Maret 2018

Analisis Studi Kelayakan Usaha Produksi TOBSAN (Tobacco Handsanitizer)
di Jember Jawa Timur

Muhamad Ali Shodiqi1, Mohamad Ulil Absor2, Muhammad Sandi Dwiyanto3, Maharani Rizki Larasati4, Taufiqur Rohman5

Abstrak

Diversifikasi produk berbahan baku tembakau merupakan salah satu hal yang sangat krusial untuk dikembangkan di Indoenesia karena adanya beberapa faktor yang mendorong pembatasan konsumsi rokok sehingga petani tembakau semakin terjepit. Salah satu solusi realistis adalah dengan mengembangkan industri yang mampu menyerap komoditas tembakau lokal. Produk diversifikasi tembakau potensial adalah hand sanitizer karena dalam ekstrak tembakau memiliki berbagai macam senyawa aktif yang berfungsi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha produksi TOBSAN (Tobacco Handsanitizer).
Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan studi literatur. Data kuantitatif dianalisa menggunakan Microsoft Excel untuk membuat tabulasi data aspek produksi dan finansial. Data kualitatif disajikan dalam bentuk deskriptif dan gambar untuk menganalisis aspek operasional, teknologi, industri, manajemen, sumber daya manusia, dan sosial. Metode yang digunakan antara lain yaitu Five Force Porter Analysis untuk meninjau aspek industri, metode short term and long term feasibility untuk meninjau aspek ekonomi, produksi dan finansial.
Berdasarkan hasil penelitian aspek operasional, pemilihan lokasi usaha handsanitizer berada di Jember. Pemilihan lokasi didasarkan pada ketersediaan bahan baku, jumlah angkatan kerja (sumberdaya manusia), proyeksi pasar, dan aspek politik yang mendukung adanya usaha produksi TOBSAN. Pada aspek industri masih diperlukan usaha peningkatan jangka panjang untuk dapat bersaing dengan industri lain, sedangkan dari aspek manajemen masih terbilang sederhana dengan sistem organisasi fungsional. Pulau Jawa layak dijadikan sebagai target pasar TOBSAN karena seluruh provinsi di Pulau Jawa masuk kedalam 10 provinsi dengan Indeks Keluarga Sehat (IKS) tertinggi di Indonesia serta Asia diproyeksikan mengalami peningkatan penjualan hand sanitizer hingga 135 juta US dollar (Global Industry Analyst, 2017). Berdasarkan hasil kelayakan jangka panjang, didapatkan hasil perhitungan Payback Period adalah 2,611 tahun dengan nilai IRR 36,42% yang lebih tinggi dari MARR saat ini yaitu 4,75%. Nilai NPV dari TOBSAN adalah Rp114.376.753.284 dengan B/C Ratio 2,9589 yang menandakan bahwa TOBSAN layak untuk dijalankan.
Kata Kunci : diversifikasi, hand sanitizer, tembakau




Abstract

Diversification of tobacco-based products is one of the most important things to develop in Indonesia because there are several factors that encourage the limitation of cigarette consumption. The potential product diversification is hand sanitizer because it can be used as an antibacterial product. The aim of this study is to determine the feasibility of TOBSAN (Tobacco Handsanitizer).
The methods of data collection are based on observation and literature study. Quantitative data were analyzed using Microsoft Excel to tabulate data production and financial aspects. Qualitative data are given in descriptive and drawing forms to analyze operational, technological, industrial, management, human, and social aspects. Methods used include Five Force Porter Analysis to determine industrial aspects, short-term and long-term feasibility analysis for economic, production and financial aspects.
Based on research results, operational location extension hand sanitizer is in Jember. Site selection based on raw materials, number of labor, market projections, and political aspects that support TOBSAN production. In the industrial aspect, TOBSAN still needs further development to be able to compete with other industries, while from the management aspect TOBSAN company are still fairly simple with functional organization system. Java island is suitable for TOBSAN’s market because all province in Java have a high Indeks Keluarga Sehat (IKS) and Asia is projected to have a market growth valued US$ 135 million (Global Industry Analyst, 2017). Based on the long-term feasible analysis, payback period for this business is 2.611 years with IRR 36,42% which is higher than MARR (4,75% March 2018). TOBSAN’s NPV is Rp114.376.753.284  with B/C ratio 2,9589 that conclude TOBSAN is feasible to be invested in.  

Keywords : diversification, hand sanitizer, tobacco

Kamis, 02 November 2017

"ENVIRONMENTAL FRIENDLY SUPPLY CHAIN SYSTEM" LANGKAH STRATEGIS MEMBAWA PANGAN LOKAL MENUJU PASAR GLOBAL

          Indonesia dengan potensi kekayan alamnya mempunyai berbagai macam potensi pangan lokal khas daerah yang bisa dikembangkan. Namun skala produksi yang masih kecil dan mekanisme jaringan distribusi yang masih lemah menjadi persoalan produsen pangan lokal sulit berkembang. Skala produksi pangan lokal di era globalisasi kini sangat mempengaruhi sistem pasokan makanan dimana jarak pangan lokal yang harus diangkut untuk menjangkau konsumen meningkat. Situasi ini tidak hanya mengurangi hubungan antara produsen makanan lokal dengan konsumen global, namun juga meningkatkan emisi gas rumah kaca karena sistem rantai pasok logistik yang terlalu panjang.


Gambar 1. Buah Naga dan Apel Lokal 
Sumber : Dokumentasi Pribadi

MENGENAL KARAKTER SPESIFIK DAN PRINSIP KEMITRAAN AGRIFOOD SUPPLY CHAIN

Rantai pasok pangan terdiri dari organisasi yang bertanggung jawab untuk produksi dan distribusi produk sayuran, hewani atau pangan olahan. Secara umum rantai pasok pangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :


1. Rantai Pasok untuk Produk Segar Pertanian (sayuran, bunga, buah) 

Gambar 1. Produk Sayuran Segar

Selasa, 04 April 2017

TOB SAN (TOBACCO HANDSANITIZER) EKSPLORASI ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN TEMBAKAU SEBAGAI HANDSANITIZER ORGANIK

Tanaman tembakau diketahui mengandung beberapa senyawa penting yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogenik. Bakteri seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis merupakan bakteri patogenik pada pangan yang dapat mengakibatkan munculnya foodborne disease. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya foodborne disease akibat kontaminasi pangan adalah personal hygine yang buruk. Kontaminasi yang terjadi akibat perilaku hygine yang buruk dapat memberikan peluang bakteri patogen mengkontaminasi makanan/minuman dan menjadi media bagi suatu penyakit. Salah satu perilaku personal hygine yang masih kurang diterapkan adalah membersihkan tangan.
Tobacco Handsanitizer adalah inovasi handsanitizer yang dibuat berbentuk gel dengan formula ekstrak daun tembakau yang efektif digunakan sebagai antibakteri pembersih tangan. Bentuk gel dipilih karena dinilai lebih efektif digunakan dan dapat dengan mudah diratakan ke seluruh permukaan tangan.

Senin, 27 Juni 2016

Tinjauan Pengetahuan Kebersihan dan Metode Sanitasi dalam Penerapannya di Warung Angkringan Kecamatan Gedongtengen Daerah Istimewa Yogyakarta


1)        Khoiruddin Z. A. 2) Tara Diso, 3) M. Ali Shodiqi, 4) Achsan Taufiq, 5) Rizal D.
Prodi Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK
      Sanitasi pangan erat kaitannya dengan kebersihan dalam tahap persiapan, pengolahan, penyimpanan serta penyajian makanan. Warung Angkringan merupakan salah satu jenis usaha penjaja makanan yang menyimpan potensi ekonomi besar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai salah satu jenis usaha pelayanan umum yang mengolah dan menyediakan makanan, maka angkringan memiliki potensi yang cukup besar untuk menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit bawaan makanan yang dihasilkannya.

Senin, 28 Maret 2016

MENJAWAB TANTANGAN PASAR BEBAS TENAGA KERJA TERAMPIL (FREE FLOW OF SKILLED LABOR)

Negara-negara di ASEAN termasuk Indonesia di dalamnya kini tengah berpacu dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah dimulai akhir tahun 2015. Tujuan pelaksanaan MEA didorong oleh perkembangan eksternal dan internal kawasan.  Dari sisi eksternal, Asia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi baru, disokong oleh India, tiongkok, dan negara ASEAN. Sedangkan secara internal, kekuatan ekonomi ASEAN sampai tahun 2013 telah menghasilkan GDP sebesar US$ 3,36 triliun dengan laju pertumbuhan sebesar 5% dan memiliki jumlah penduduk 617, 68 juta orang. Pada dasarnya kekuatan MEA sebenarnya berada di tangan Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN. Hal itu didukung oleh data proporsi Indonesia vs ASEAN yaitu luas wilayah mencapai 43%, proporsi jumlah penduduk mencapai 40% serta proporsi GDP Indonesia yang mencapai 38%.
Salah satu isu tantangan terberat Indonesia dalam MEA adalah terjadinya pasar bebas tenaga kerja terampil (free flow of skilled labor).